Archive for the ‘Solidaritas’ Category

Sudah dua kali saya berkunjung ke Kuba. Pertama di Bulan November 2014 dan yang kedua di bulan Februari 2015. Jika kunjungan pertama hanya dilakukan secara singkat yakni dua malam tiga hari dan murni plesir, maka kunjungan kedua saya turut dalam rombongan misi perdamaian yang digagas oleh Code Pink, sebuah organisasi perdamaian berbasis di Amerika.

Pada kunjungan pertama, saya hanya bermodalkan nekat.

(more…)

Untuk Flo

Posted: September 1, 2014 in Solidaritas

Hai Flo,

 

Namamu cantik. Florence.

Mengingatkan saya pada Firenze, sebuah kota cantik di Italia, tempat Dante dilahirkan.

Tahun lalu berencana ke sana, tapi kawan saya yang angkuh malah mengajak ke Verona (dan Venesia).

Meski demikian, jejak Dante pun ada di Verona. Patungnya berdiri megah di Piazza dei Signori.

Dan, kalau ingat Dante, saya pun biasanya langsung ingat Inferno, The Divine Comedy dan kutipan ini:

”The darkest places in hell are reserved for those who maintain their neutrality in times of moral crisis”.

Kutipan itu kerap beredar di media sosial saat pilpres kemarin. Mengingatkan kita agar tidak bersikap netral saat berada pada situasi krisis moral.

Kutipan yang dipakai untuk mengajak orang-orang golput untuk memilih dan orang-orang netral untuk bersikap jelas.

 

Jujur saja, saya tidak terlalu suka dengan kutipan yang itu.

Krisis moral itu debatable.

Standar yang digunakan bisa beragam.

Saat saya menganggap sebuah krisis moral adalah situasi di mana Angka Kematian Ibu karena melahirkan tinggi, petani kesulitan akses pupuk murah, buruh alih daya selalu mendapat represi dan perempuan ditangkapi karena tak berpakaian sesuai ajaran agama serta korupsi kolusi nepotisme terus merajalela maka pada saat yang sama seseorang merasa bahwa krisis moral adalah saat kian banyak perempuan pakai baju ketat dan kian banyaknya anak muda akses pornografi lewat internet.

Jadi, standar moral pemenanglah yang dipakai, standar moral yang banyak diyakini mayoritas, meski belum tentu benar. Asem ya?

Ah saya jadi melantur.

Bagaimana kesehatanmu Flo? Apakah sel-mu dingin? Semalam Jogja hujan ya? Kamu jangan stres dong…Kemalangan ini tidak kamu rasakan sendirian. Ada beberapa orang  yang kurang lebih sama kasusnya seperti kamu juga saat ini tengah mendekam di penjara. Ada yang dipenjara karena memaki-maki via sosial media tapi juga ada kawan saya yang dipenjara karena mengorganisir dan membela petani, Eva Bande.

Tentu saja kasusnya berbeda jauh denganmu. Bukan untuk membanding-bandingkan, tapi kawan saya itu dipenjara karena mendampingi petani mendapatkan hak-nya kembali. Ia salurkan kemarahannya atas ketidakadilan negara ini kepada petani dengan cara mengorganisir dan membantu petani. Andai saja kemarahanmu kemarin kamu salurkan dengan organisir mahasiswa FH UGM untuk demo besar-besaran ke depot pertamina atau kantor gubernuran, kalau pun ditahan, mungkin sekarang kau sudah jadi ikon mahasiswa pemberontak seperti Camilo Vallejo di Chili itu. Sayang sekali kamu salah sasaran saat lampiaskan kemarahan. Mestinya kamu marahi mafia minyak, pemerintahan yang gagal mengelola migas untuk rakyatnya.

 

Kamu kemarin itu marah berat ya Flo?

Apakah kamu pemarah? Sama dong. Saya juga.

Apalagi bagi saya yang tinggal di Jakarta. Setiap hari saya mengutuk kota ini.

Perempuan diperkosa di angkot? Ya di Jakarta.

Perempuan diperkosa di transjakarta? Ya, Jakarta.

Maka saya sering umpat dia dengan makian.

 

Jujur saja, sejak awal postingan path-mu beredar, saya lagi sibuk hadapi auditor internal dari kantor pusat. Jadi cuma baca dan perhatikan selewatan saja. Meski demikian saya terkejut, ”orang sakit jiwa mana lagi nih yang berulah? Negatif sekali komentarnya terhadap Jogja”

Baru pada sore hari saya agak tertegun lama, saat dengan bangganya selebtwat-selebtwit unggah screencap path kamu dan meneruskannya ke media dan bahkan ada yang berterima kasih karena detikcom kemudian mengunggahnya menjadi berita. Dan setelah itu mulailah beredar alamatmu dan makian bernada rasis dan ancaman perkosaan serta pembunuhan, semua saya baca via media sosial.

Awalnya saya pikir, bully terhadap kamu akan selesai dan mereda dengan sendirinya sama seperti kasus Dinda, seorang anak remaja yang kesal dengan privilege terhadap ibu hamil di transjakarta. Tapi saya salah. Ucapan maaf yang kamu sampaikan ternyata tak mampu meredakan amarah beberapa orang. Mereka ini yang kemudian menyatakan diri menjadi representasi warga Jogja, melaporkan kamu ke polisi.

Sampai pada tahap kamu disanggah, diejek, dan di maki-maki warga twitterland, saya masih diam saja dan tidak ikut-ikutan

Selain tak punya waktu, saya pun merasa itulah harga yang kamu harus bayar atas kesembronoan kamu dalam berpikir dan bertindak.

Namun, saat ada yang melaporkan kamu ke kepolisian dan saya tahu yang digunakan (lagi-lagi) adalah pasal 27 dan 28 UU ITE serta KUHP pasal 310 dan 311, saya tidak bisa lagi diam. Saya masih punya ingatan buruk atas apa yang menimpa Prita, Alexander Aan, Benhan dan lainnya. Pasal ini sangat lentur, bisa menjerat siapapun. Pasal pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan ini amat multitafsir, pasal peninggalan Belanda yang sejak dulu kita minta untuk direvisi. Saya pun bereaksi Flo, marah lewat media sosial. Tapi tidak berhenti di situ, saya pun mencoba koordinasi dengan kawan-kawan lain yang saat ini sedang berupaya menangguhkan penahananmu.

Flo,

Meski saya tinggal di Jakarta tapi lahir dengan darah Jogja. Keluarga besar saya tingal di Yogyakarta, di Timoho tepatnya. Itu lo dekat Santo Thomas, tektek Sepur.

Kenapa saya tulis asal usul saya Flo? Ya agar Flo tahu bahwa Jogjakarta tidak homogen. Ada kok orang Jogja yang tidak setuju jika Flo ditahan. Jogjakarta itu kaya dan amat toleran. Saking tolerannya, diskusi akbar melawan pluraslime pun boleh dilaksanakan di Jogja. Di Jogja ada yang menjadikan kasusmu bahan gojekan dalam tulisannya. Ada juga yang cengar-cengir. Tapi ada banyak juga yang seperti saya, yang menolak UU ITE dan pasal pencemaran nama baik digunakan untuk kasus ini.

Semoga kamu tetap semangat ya di dalam tahanan sana. Ada kok kawan-kawan saya yang sedang berjuang mengupayakan pembebasanmu. Segeralah minta maaf lagi kepada Jogja.

Dan jangan takut untuk marah!

Tapi lampiaskan kepada pemerintahan kamu yang tak dikelola dengan baik ini. Dan setelah ini, jangan lupa kamu segera bangun solidaritas dan gerakannya. Rugilah sudah kuliah S2 di UGM kalau tak membuat gerakan sosial yang maju. Mungkin bisa mulai dengan membentuk komunitas survivor UU ITE. Sudah banyak tuh korbannya.

 

Salam manis

 

tp

 

Dear Jakarta Post,

I am a loyal reader of the newspaper. For years, I have been reading The Jakarta Post because I know it defends and fight for the upholding of human rights principals and democratization in Indonesia.

However, I noticed that your paper only put a small portion of coverage when it comes to the victim of disappearance, Wiji Thukul while in the past two months I know that there were so many activities had been conducted related to Wiji Thukul.

To tell you the truth, I was confused to find out that the Post was the only media that did not cover recently big interests from Indonesian new generation on Indonesian great poet Wiji Thukul. The poet has been turned into an icon by a youth social movement called Barisan Pengingat, which among others has painted the city’s walls with the missing poet’s poems and face (Jakarta and Jogja!).

The movement aiming at raising awareness among young generation so that they can be critical and stand against injustice and human rights violations has become massive as it has attracted thousands followers across the country since its declaration in January. Then, my confusion grew into frustration when I also found out that again the Post is the only media that didn’t cover a decision by ASEAN Literary Festival to make Wiji Thukul’s poems as the theme for the whole festival.

And most disappointingly, the Post also failed to even give space for the announcement that Wiji Thukul won ASEAN Literary Award 2014 for his dedication in fighting injustice and totalitarian regime, while helping Indonesia move into democracy, among values owned and held high by the Post.

This is the first time ever that Wiji Thukul receives a literary award, let alone it’s at the regional level in front of Indonesian state officials and other countries’ diplomats. The government through Foreign Minister Marty Natalegawa for the first time made a positive statement acknowledging Wiji Thukul as a hero for sacrificing his life to fight against the injustice at opening ceremony of the festival on March 21.

As a loyal reader, I am just wondering whether the Post just doesn’t care about Wiji Thukul or deliberately wants to wipe out the missing poet from the Indonesian history even when his worthiness and causes have been acknowledged by the region.

I remember a time when I met with almost all your senior editor, including Pak Endy Bayuni after the Irshad Manji bruhaha. He eloquently said about The Jakarta Post’ principal on upholding human rights issues. Therefore, through this open letter, I really would like to get your explanation.

Thank you.

Tunggal Pawestri

——–

additional note:

1. I sent this letter on Wednesday 26 March 2014 to your editorial e-mail and received no response.

2. Under the freedom of media principal, I do understand that The Jakarta Post has the right to decide whether a news is worthy enough or not to be covered. But again, for me, no single coverage on Wiji Thukul in your paper is really something.