Untukmu #1

Posted: April 10, 2015 in Puisi

Ia berjalan dengan lambat
menghirup oksigen
menikmati desir angin yang menyentuh lembut kulitnya
mengayunkan tiap langkah dengan kepercayaan penuh,
semuanya akan baik-baik saja

Lalu ia sandarkan dirinya,
kepada sebuah pohon
yang angkuh
yang berdiri kokoh
meski banyak nama tergores di batangnya
diukir oleh tangan-tangan jahil
yang tak mampu menahan diri untuk memberi luka pada keindahan

Namun lama kelamaan
ia berhenti bergerak
terbuai dengan semilir angin yang berhembus dari sela sela dedaunan
terpesona oleh pendar bayang yang menghilang lalu muncul.
Menghilang lalu muncul kembali
terus menerus.
Ulah matahari

Ia yang selalu pandai mengolah rasa
mengenali semua pertanda
merasa mulai kehilangan semua indera
dan tiba-tiba dengan satu hentakan
ia terlempar
terjatuh.
Ia terluka.
Ia ludahi tangannya untuk melumuri luka di lututnya.
pedih.

Ditahankan sakitnya
Ia berdiri.

Entah mengapa ia tak terlampau peduli muasal hentakan
Ia sama sekali tak tertarik untuk mengetahuinya
Satu hal yang ia segera dengan penuh sadari ialah:
pohon itu telah memberi ilusi pasti, nyaman yang seakan tak pernah berhenti

Kini ia akan mencari cara 

mengembalikan semua kekuatan pengenal rasa

Nanti, semua akan baik-baik saja.

Seperti biasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s