Petaka Ganda Korban Pemerkosaan

Posted: November 1, 2012 in Perempuan

Tulisan saya ini sudah dimuat di Koran Tempo 23 Oktober 2012.

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa pernyataan yang keluar dari mulut para politisi atau pejabat negara merefleksikan bukan hanya pandangan politik namun juga pandangan pribadi mereka. Tidak heran jika para politisi atau pejabat publik mendapat protes keras jika dianggap mengeluarkan pernyataan yang dianggap tidak sensitif.

Pada awal Oktober seorang siswi perempuan berusia 14 tahun menjadi korban pemerkosaan. Pada saat upacara bendera, pihak sekolah mengumumkan bahwa siswi ini dikeluarkan. Banyak pihak menyayangkan bahkan mengutuk apa yang dilakukan oleh sekolah tersebut. Protes pun bermunculan.

Saat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Bapak M Nuh dimintai tanggapan mengenai tindakan sekolah tersebut, ia menjawab “dalam kondisi tertentu, bisa saja karena kenakalannya maka sekolah mengembalikannya ke orangtuanya. Soalnya ada yang sengaja, kadang-kadang ada yang sama-sama senang, ngakunya diperkosa (11/10)”.

Jawaban M Nuh mengejutkan dan membuat geram banyak orang terutama para aktifis perempuan dan anak. Alih-alih memanggil dan memintai keterangan sekolah yang mengeluarkan anak korban pemerkosaan, pejabat tinggi Negara ini malah memberikan pernyataan yang terkesan hendak membela perlakuan sekolah serta meragukan pengakuan korban pemerkosaan.

Komnas Perempuan mencatat bahwa untuk tahun 2011 terdapat 4.335 kasus kekerasan seksual yang menimpa perempuan. Perlu digarisbawahi, para perempuan korban pemerkosaan ini tidak berbohong.

Hingga London
Untuk perkara ocehan tak sensitif soal pemerkosaan, M Nuh bukan yang pertama dan tidak sendiri. Jujur saja, tidak akan cukup kertas di halaman koran ini untuk memuat daftar politisi atau pejabat publik dari seluruh negara yang mengeluarkan pernyataan serampangan saat mengomentari persoalan pemerkosaan.

Tahun lalu pernyataan mantan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo juga menuai protes keras. Dalam merespon kasus pemerkosaan dalam angkutan umum, Fauzi Bowo malah mengomentari cara berpakaian perempuan. Tetapi pernyataan lebih mengerikan datang dari Bupati Aceh Barat, Ramli Mansur, ia mengatakan bahwa perempuan yang memakai rok mini layak diperkosa.

Dua bulan lalu di Amerika, Todd Akin seorang Senator dari Partai Republik juga mengeluarkan pendapat sembarangan mengenai pemerkosaan. Menurutnya pemerkosaan yang dapat dilegitimasi adalah pemerkosan yang tidak menimbulkan kehamilan. Dengan kata lain, jika terjadi kehamilan karena pemerkosaan maka hal tersebut tidak masuk kategori pemerkosaan. Pendapatnya mendapatkan protes yang tajam bukan hanya dari masyarakat namun juga dari kolega di partainya sendiri.

Pernyataan yang tak kalah ngawur lainnya berasal dari Ken Clarke, mantan Menteri Kehakiman Inggris. Dalam sebuah wawancara ia menolak pernyataan bahwa rape is rape, pemerkosaan adalah pemerkosaan. Menurutnya, sebuah pemerkosaan bisa lebih serius dibanding satu pemerkosaan lainnya. Ada pemerkosaan yang serius, ada pemerkosaan yang tidak serius. Definisi inilah yang memicu kemarahan. Gelombang protes menggema dan tuntutan mundur disuarakan oleh para perempuan penyintas.

Bagi para penyintas, pemerkosaan adalah pemerkosaan. Walau diperkosa oleh orang tak dikenal, tetangga, pacar atau bahkan suami sendiri tetap saja namanya pemerkosaan. Tidak lebih tidak kurang.

Implikasi Terhadap Korban
Serikat Perempuan Labuhan Batu adalah sebuah organisasi perempuan akar rumput yang berlokasi di Labuhan Batu Sumatra Utara. Serikat Perempuan beranggotakan ratusan perempuan ibu rumah tangga dan perempuan petani. Saya ingat saat berkunjung pada akhir tahun 2009, mereka sedang sibuk mendampingi satu kasus pemerkosaan terhadap anak perempuan di bawah umur yang dilakukan empat orang lelaki dewasa.

Proses pendampingan mulai dari melaporkan kejadian ke polisi hingga putusan sidang memakan waktu 11 bulan. Selama itu jugalah stamina fisik dan psikis korban pemerkosaan disiapkan. Saat melapor, korban pemerkosaan selalu didampingi agar berani bicara kepada polisi, menceritakan apa yang ia alami untuk kebutuhan BAP lalu menjalani visum. Dalam proses persidangan, korban lagi-lagi didampingi untuk menghadapi jaksa yang mencecarnya dengan pertanyaan menyudutkan. Pelaku akhirnya dihukum pidana penjara 15 tahun dengan menggunakan pasal 81 dan pasal 82 UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak.

Silahkan bayangkan keseluruhan proses tersebut. Berat dan melelahkan. Mengalami pemerkosaan, lalu diminta untuk mengingatnya, menceritakannya kembali, berkali-kali kepada aparat penegak hukum. Dalam proses persidangan korban menghadapi Jaksa yang mencecar seribu pertanyaan. Pertanyaan yang bahkan bukan hanya membuat korban tetapi pendamping pun gemetar dan menangis karena menahan marah saat mendengarnya.

Kita tahu bahwa masih banyak korban pemerkosaan di luar sana yang memilih tak mau melaporkan kasusnya karena malu dan takut. Pemerkosaan bukan hanya melukai secara fisik namun menyerang martabat dan melukai batin korban seumur hidup.

Membangun kesadaran dan keberanian para korban kekerasan seksual untuk melaporkan kejahatan yang menimpanya adalah salah satu tantangan terbesar yang masih harus dihadapi. Agenda penguatan dan pemulihan korban pemerkosaan membutuhkan banyak dukungan terutama dari pihak keluarga atau orang-orang terdekat.

Bagaimana mau melapor kalau belum apa-apa sudah disalahkan atau diragukan keterangannya? Akibatnya para pelaku kekerasan seksual tetap akan berkeliaran secara bebas di luar sana. Sudah cukup penderitaan yang dialami oleh korban pemerkosaan. Sebagai masyarakat yang berbudi tak perlu lagi membuat komentar atau pernyataan yang justru menyudutkan dan menyalahkan korban pemerkosaan. Bagi para pejabat publik, jika tak sanggup berbuat apa-apa, mungkin diam jauh lebih bermakna.

Comments
  1. don says:

    hukuman pemerkosa seharusnya hukuman mati, karena perempuan yg diperkosa itu sesungguhnya mengalami kematian masa depan…salam perjuangan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s