Bukan Salah Korban Pemerkosaan

Posted: September 20, 2011 in Feminis

Bukan Salah Korban Pemerkosaan

Artikel saya ini dimuat di Koran Tempo.
Selasa, 20 September 2011 | 07:20 WIB

TEMPO.CO, Kembali nurani kita diusik oleh teror dan kejahatan seksual yang menimpa perempuan. Seorang perempuan pekerja diperkosa secara bergantian oleh empat laki-laki di dalam kendaraan angkutan kota yang ditumpanginya. Padahal belum lama kita mendengar berita mengenai terbunuhnya seorang mahasiswi setelah terlebih dulu diperkosa, yang juga dilakukan di dalam angkutan kota.

Reaksi muncul dari masyarakat, mengutuk kejadian ini serta menggugat keamanan kendaraan angkutan kota kepada pemerintah daerah dan aparat penegak hukum. Namun, alih-alih memberi solusi konkret atas persoalan keamanan di dalam angkutan umum dan menjamin keamanan perempuan, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo malah mengeluarkan pernyataan yang meminta perempuan tidak memakai rok mini saat berada di dalam angkutan kota untuk menghindari pemerkosaan.

Setidaknya ada dua pesan yang bisa ditangkap dari pernyataan Fauzi Bowo. Pertama, rok mini dianggap menjadi penyebab pemerkosaan. Kedua, Fauzi Bowo, dalam hal ini representasi pemerintah, hendak mengatur cara berpakaian perempuan saat beraktivitas di ruang publik.

Rok mini
Pada 2008 di Afrika Selatan, ratusan perempuan berdemonstrasi dengan menggunakan rok mini. Aksi ini dipicu oleh kekerasan seksual yang dilakukan oleh sopir taksi kepada seorang gadis muda yang pada saat kejadian kebetulan menggunakan rok mini. Tak tahan karena pakaian korban selalu disalahkan, para aktivis perempuan mengorganisasi demonstrasi tersebut. Seruan mereka saat itu ada dua. Pertama, meminta agar tidak ada aturan mengenai pakaian apa yang harus dikenakan oleh perempuan. Yang kedua adalah pesan yang menyatakan bahwa rok mini bukanlah undangan terbuka bagi pemerkosa.

Pada 24 Januari 2011 di Toronto, Kanada, seorang petugas kepolisian bernama Michael Sanguinetti berbicara di hadapan siswa Sekolah Hukum Osgoode Hill tentang cara melindungi diri mereka sendiri dari serangan kejahatan seksual. Presentasi berjalan lancar hingga saat Sanguinetti berkata bahwa perempuan harus menghindari berpakaian seperti seorang pelacur agar tidak menjadi korban kejahatan.

Pernyataan tersebut sontak menyulut kemarahan banyak pihak, terutama para aktivis perempuan. Maka, pada 3 April 2011, 1.500 orang di Toronto melakukan aksi “Slut Walk”. Aksi ini kemudian dilakukan di negara lain. Sudah sekitar 5.000 orang ikut berpartisipasi dalam aksi itu. Bahkan, tiga minggu lalu, 2.000 orang di Cape Town, Afrika Selatan, melakukan aksi “Slut Walk”. Para peserta aksi didominasi oleh perempuan muda. Pesan yang diangkat dalam semua aksi sama, yakni memprotes kekerasan seksual dan menggugat kultur yang selalu menyalahkan korban. Mereka menolak cara berpikir yang hendak mengontrol tata cara berpakaian perempuan serta meminta para aparat dan pemerintah berfokus mendidik laki-laki untuk tidak lagi memperkosa perempuan.

Jika dicermati, pernyataan Foke–sapaan akrab Fauzi Bowo–dan Sanguinetti hampir mirip. Pernyataan itu terlihat bijak dan benar. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah mengapa banyak orang, terutama aktivis perempuan, begitu geram terhadap pernyataan tersebut?

Data dan fakta bicara
Siapa pun tak dapat memungkiri bahwa pemerkosaan adalah salah satu kejahatan terkeji yang merendahkan kemanusiaan. Kejahatan seksual ini mampu menghancurkan harkat dan martabat seorang perempuan. Korban pemerkosaan sering kali merasa hancur hidupnya, sehingga pelayanan konseling menjadi paket tak terpisahkan dalam upaya membantu korban.

Berdasarkan data Kepolisian Daerah Metro Jaya pada 2010, terdapat 40 perempuan korban pemerkosaan. Sementara itu, untuk tahun ini, jumlah korban pemerkosaan sudah mencapai 41 orang. Menurut Kepala Biro Operasional Polda Metro Jaya Komisaris Besar Sujarno, seperti yang dikutip sebuah media online, kejahatan pemerkosaan paling dominan dilakukan di rumah, yakni sebanyak 26 kali. Sementara itu, pada 2010, Komisi Nasional Perempuan mencatat 3.753 kasus kekerasan seksual terjadi di seluruh Indonesia. Angka ini bisa jadi jauh lebih tinggi karena biasanya perempuan korban merasa enggan melaporkan kejadian kekerasan seksual yang menimpanya.

Masih menurut Komnas Perempuan, keengganan korban melaporkan kasusnya disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya stigmatisasi dari masyarakat yang kadang berujung pada pengusiran korban, budaya menyalahkan korban, dan tidak adanya dukungan dari keluarga.

Pernyataan Fauzi Bowo tentu saja contoh gamblang dari budaya menyalahkan korban. Perempuan pemakai rok mini dianggap menjadi penyebab tindak kejahatan pemerkosaan. Fauzi Bowo lupa bahwa kasus pemerkosaan bisa terjadi pada perempuan yang mengenakan busana apa saja. Kasus pemerkosaan bisa terjadi pada saat seorang perempuan menggunakan piyama tidur di kamar, jins di kampus, dan bahkan saat menggunakan burqa sekalipun.

Kultur menyalahkan korban harus dihentikan. Beban kerja para aktivis kemanusiaan dan aktivis perempuan untuk mengungkap kasus kekerasan seksual amat berat. Tidak mudah untuk membuat korban bicara. Pernyataan Fauzi Bowo bisa mengakibatkan para korban kekerasan seksual enggan dan takut untuk melaporkan kepada aparat keamanan. Akibatnya, tindak kejahatan ini akan terus merajalela karena pelaku merasa bahwa melakukan kejahatan ini tidak akan mendapat hukuman berat atau bahkan bisa lolos dari jerat hukum.

Jika memang pemerintah belum mampu melindungi perempuan secara maksimal untuk terbebas dari kejahatan pemerkosaan dan tidak mampu menyediakan jaminan keamanan bagi perempuan pengguna angkutan umum, sampaikan saja dengan jujur. Katakan saja bahwa pemerintah butuh pendapat dari ahli yang benar-benar ahli. Hal itu lebih baik ketimbang mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang justru menyalahkan korban dan berpotensi menyingkirkan perempuan dari ruang publik.

Link langsung ke website tempo http://www.tempo.co/read/kolom/2011/09/20/450/Bukan-Salah-Korban-Pemerkosaan-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s