Aku cinta kau tapi masih sulit bagiku menerimamu!

Posted: June 1, 2011 in Celoteh iseng

Semalam saya datang ke acara konser musik dan pidato politik “Tribute to Franky Sahilatua” di Gedung Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki.  Acara gratisan ini digelar tepat 40 hari paska wafatnya Franky Sahilatua. Franky sendiri dikenal sebagai musisi yang mengabdikan separuh hidupnya menyuarakan kisah kemanusiaan dan selalu mengingatkan kita mengenai persoalan-persoalan kemanusiaan.

“Pancasila Rumah Kita”
Itulah judul acara yang dikemas tadi malam. Dengan sederet artis pendukung, Ratna Sarumpaet berhasil membuat ribuan orang datang dan menonton acara tersebut. Monolog, Tari, Puisi, Lagu dan Pidato Politik menjadi sajian utama peringatan 40 hari kematian Franky.

Bagi saya, hanya Glenn Fredly yang berhasil memukau semua penonton. Terutama saat ia menyanyikan lagu karya Franky “Pancasila Rumah Kita”

Tiga minggu yang lalu sebuah lembaga donor nasional yang lumayan besar mengeluarkan sebuah call for proposal dengan tema utama Pancasila.

Sementara belum lama ini, Taufik Kiemas pun mendapat penghargaan oleh sebuah stasiun televisi karena dianggap konsisten berkeliling untuk memperkuat dan mengembangkan kembali konsep Pancasila.

Pancasila. Pancasila. Pancasila.

Gaungnya mulai bergema. Setidaknya banyak kawan-kawan saya, pegiat pluralisme sekarang rajin meneriakkkan pentingnya kembalinya kita ke Pancasila.

Kepala saya pening!

Hingga saat ini, saya sendiri masih sangat trauma dengan Pancasila. Bahkan partai yang dulu saya menjadi anggotanya pun tidak memasukkan Pancasila sebagai dasar negara dalam AD/ART kami waktu itu, karena kami sadar betul,

atas nama Pancasila, jutaan anggota dan simpatisan PKI dan GERWANI dibunuh, diperkosa dan dihilangkan kemanusiaannya.

atas nama Pancasila, periatiwa kekerasan, pelanggaran HAM di Lampung dan Tanjung priuk terjadi.

atas nama Pancasila, Ori Rachman (dulu direktur Kontras) pernah dipaksa untuk meneriakkan sila-sila Pancasila didepan segerombolan preman dan diintimidasi. Ori dianggap tidak Pancasilais karena menolak DOM di bumi rencong.

atas nama Pancasila, para penghayat kepercayaan tak mendapat tempat di dalam sistem administrasi kependudukan di Indonesia.

atas nama Pancasila, orang-orang di Papua selalu ditindas dan mengalami represi militer yang kejam

atas nama Pancasila, segerombolan orang membentuk kelompok dengan baju oranye loreng dan tak segan melakukan kekerasan.

Namun saya tahu bahwa saya tidak boleh ahistoris. Mengatakan Pancasila patriakh dan kejam sama artinya dengan menutup mata pada apa yang sesungguhnya menjadi cita-cita awal Pancasila dituliskan.

Saya juga tahu kalau saya tidak boleh menyerah. Saya harus belajar menerimanya kembali. Mungkin saya akan berjuang untuk menjadikan Pancasila sebagai rumah yang aman bagi saya, bagi Perempuan, bagi LGBT, bagi Ahmadiyah, bagi buruh yang berani melawan, bagi petani yang berjuang merebut kembali tanahnya, bagi semua kaum marjinal.

Pancasila yang tidak dikangkangi oleh kaum fasis dan kaum religius fundamentalis!

1 Juni 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s