Kartini dibajak?

Posted: April 21, 2011 in Perempuan

Untuk mengenang sosok RA Kartini sebagai pejuang emansipasi wanita Indonesia, sejumlah petugas perempuan Badan Layanan Umum (BLU) TransJakarta, seperti pramudi dan kasir mengenakan pakaian tradisional kebaya, Kamis, (21/4). (beritajakarta 21 April 2011) http://www.beritajakarta.com/2008/id/video_play.asp?vid=2910

Menyambut hari Kartini, mall di Makassar gelar pemilihan model http://makassar.tribunnews.com/2011/04/08/hari-kartini-mall-gtc-gelar-pemilihan-model (21 April 2011)

Meriahkan hari Kartini dengan lomba Fashion Kebaya http://bangka.tribunnews.com/2011/04/22/meriahkan-hari-kartini-dengan-lomba-fashion-kebaya

Sri Mulyani Kartini Masa Kini http://economy.okezone.com/read/2011/04/21/209/448450/sri-mulyani-kartini-masa-kini

21 April

Saya mulai mengenal dan merayakan hari Kartini pada saat di bangku Sekolah Dasar. Sekolah saya meminta kepada para murid untuk datang dengan menggunakan pakaian daerah masing-masing.  Karena murid di sekolah saya pada umumnya berasal dari kalangan miskin maka tidak banyak murid yang dapat memenuhi kewajiban menggunakan pakaian daerah. (Sewa pakaian adat saat itu tidak murah. Kalaupun ada pun terbatas jumlahnya)  Walhasil ada yang datang untuk memperingati Kartini dengan menggunakan kostum seperti Polisi atau Dokter.

Sewaktu SD, tidak banyak hal yang saya ketahui tentang Kartini. Saya hanya tahu bahwa Kartini adalah pejuang perempuan, lahir tanggal 21 April, berasal dari Jepara, meninggal karena melahirkan. Hal lain yang saya tahu adalah korespondensi ia dan sahabatnya dibukukan oleh Abendanon dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Sempat saya berpikir bahwa Kartini adalah pejuang kemerdekaan lo, ikut angkat bedil dan melawan Belanda. Yah… namanya juga masih SD

Hingga Sekolah Menengah pengetahuan saya mengenai Kartini tidak juga bertambah. Kartini, Kebaya, Pejuang Emansipasi~saya tidak tahu betul arti kata emansipasi saat itu. Emansipasi secara sederhana saya artikan sebagai keikutsertaan. Keikutsertaan perempuan dalam segala hal! Intinya: dulu kalau tidak ada Kartini, mustahil perempuan bisa sekolah. Pemahaman itu yang terus saya bawa hingga kuliah.

Membaca Kartini

Saya lupa semester berapa, namun saya membeli sebuah buku di pasar loak Senen yang diterbitkan Sinar Harapan yang berjudul Satu Abad Kartini 1879-1979. Saya begitu terkesan dengan tulisan Sutan Takdir Alisyahbana. Ia mengutip kalimat Kartini soal semangat.

“memang suatu pekerjaan yang seolah-olaj tak mungkin dapat dikerjakan! Tetapi siapa tidak berani, takkan menang! Itulah semboyanku. Maka ayo maju! Bertekad saj untuk mencoba semua! Siapa Nekad mendapat tiga perempat dunia!”

Wuah, sayang langsung jatuh cinta setengah mati dengan Kartini. Ini perempuan hebat! Ia benar-benar bukan perempuan biasa. Karena tulisan St Takdir Alisyahbana itu pula saya memutuskan untuk mencari buku Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer.

Benar saja. Saya terhanyut dengan pemikiran Kartini dan bangga dengan-nya. Tulisannya begitu lantang, menembus tembok Keraton. Saya sepakat dengan Pram. Kartini adalah inspirator.

Pandangan Kartini soal kemiskinan, soal penjajahan, feodalisme, sinkretisme dan kosnep cinta begitu jelas. Asasnya yang begitu terkenal “Kerja Buat Rakyat” menjadi sangat berharga. Karena diucapkan seorang gadis kecil yang seumur hidupnya hanya mengenal tembok keraton dan pengabdian para emban.

132 tahun

Lihat link yang saya berikan diatas. Semua berita diatas dengan jelas menjauhkan hari Kartini dengan makna sesungguhnya. Semua keagungan Kartini diredusir makna-nya menjadi sekedar diskon di Mall dan fashion show. Lebih parah lagi, supir perempuan bus transjakarta di minta untuk pakai Kebaya untuk memperingati Kartini. Bahkan semua layar TV, mulai dari berita hingga acara gossip, presenter-nya menggunakan Kebaya.

Jika penggunaan Kebaya dilakukan pada tahun 1950-1960-an mungkin bisa dipahami, karena Soekarno saat itu membutuhkannya untuk membangun karakter bangsa. Nation Building.

Tapi kalau sekarang. Too much lah! Kalau mau pakai kebaya ya silahkan. Mungkin bisa cari waktu yang lebih tepat. Hari Kemerdekaan Indonesia atau Kebangkitan Nasional misalnya? Dan tak perlu pakai kontes segala!

Memperingati hari Kartini bisa dilakukan dengan mudah kok. Berikan pelayanan gratis periksa Pap Smear untuk rakyat miskin atau upayakan sungguh-sungguh memberi support untuk menurunkan Angka Kematian Ibu.

Gampang khan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s