Mengungkap Kebisuan Menjelajahi Kebenaran

Posted: December 7, 2010 in Film Review

Film Review Wannabe:

 

 

 

 

 

40 YEARS OF SILENCE: An Indonesia tragedy

Robert Lemelson

Elemental Production 2009

84 menit

 

Film Pengkhianatan G30S/PKI produksi PPFN adalah satu-satunya film yang saya tonton lebih dari lima kali dalam hidup. Dua diantaranya saya tonton pada tahun 1984 saat film tersebut pertama kali rilis. Pertama nonton bersama para guru dan teman-teman sekolah SD . Kedua bersama ibu saya dan rombongan Dharma Wanita-nya. Sisanya saya tonton di TVRI setiap malam tanggal 30 September.

Saya ingat dua adegan yang selalu membuat saya bercucuran air mata. Pertama adegan tertembaknya Ade Irma Suryani Nasution dan kedua adalah adegan putri DI Panjaitan menangis histeris  dekat genangan darah bapaknya lalu mengusapkan darah tersebut ke mukanya sendiri sambil berteriak “paapaaa…..”.

Adegan kekerasan ditampilkan secara vulgar. Tanpa sensor. Padahal hampir seluruh anak sekolah menontonnya.  Jujur saja, kebencian saya terhadap PKI meruap.

Namun untunglah saya tidak berlama-lama dengan pemahaman seperti itu. Saya mulai banyak membaca buku-buku sejarah negara lain dan mengenal  teori-teori konspirasi. Saya pun menemukan kenyataan bahwa rezim yang berkuasa memiliki kecenderungan untuk membengkokkan sejarah.

Akses terhadap kebenaran sejarah Indonesia semakin membentang luas seiring keaktifan saya di sebuah partai progresif anti orba yakni Partai Rakyat Demokratik. Kebencian terhadap Soeharto menebal. Saya sungguh tidak sanggup memikirkan berapa juta korban pembunuhan massal yang dilakukan tentara Soeharto kepada orang-orang yang menjadi anggota PKI, partai terbesar keempat saat itu.

Saya lupa kapan tepatnya film G30S stop tayang. Namun tetap saja tidak banyak orang memiliki akses terhadap sejarah yang benar. Bahkan setelah Soeharto tumbang belum tampak upaya serius dari pemimpin negara untuk meluruskan sejarah. Hanya alm Gus Dur yang saya tahu sempat meminta maaf kepada korban 65, selebihnya tidak. Sempat pula saya mengetahui upaya menghapuskan kata PKI dari buku pelajaran sejarah peristiwa 30 September 1965. Namun upaya tersebut masih mendapatkan tentangan dari banyak pihak.

Beberapa upaya pelurusan sejarah selalu mengalami hambatan. Lexy Rambadetta, salah seorang filmmaker pernah mendokumentasikan upaya penggalian kuburan massal oleh para keluarga korban dengan bantuan ahli forensik. Dalam film “Mass Grave” 2002 terlihat jelas bahwa masih banyak tekanan dan kekerasan diterima oleh pencari kebenaran saat penggalian dimulai.

Namun demikian saya melihat upaya untuk terus mengungkapkan kebenaran masih terus dilakukan. Selain dilakukan oleh keluarga korban dan para sejarawan progresif, banyak pihak terus mengupayakan agar apa yang terjadi pada tahun 1965 dapat terus diungkap. Termasuk oleh salah seorang peneliti dan dosen pengajar di UCLA Amerika. Robert Lemelson.

Bisa jadi Lemelson tidak pernah menyangka bahwa pertemuannya dengan salah satu subjek penelitian Schizoprenia di Bali tahun 1997 akan membawanya pada satu cerita sejarah kelam bangsa Indonesia. Cerita yang kemudian ia angkat dalam format film dokumenter berjudul 40 years of silence.

Film ini berfokus pada kisah empat keluarga korban tragedi 1965-1966. Keluarga Budi di Klaten, Keluarga Lanny di Semarang dan Keluarga Kereta dan Degung di Bali. Menurut Lemelson mereka menderita penyakit gangguan kejiwaan yang dikenal sebagai PTSD (Post Traumatic Syndrome Disorder)

Jalinan cerita dalam film ini diberi konteks oleh tiga sejarawan. Profesor Geoffrey Robinson ahli sejarah dari UCLA Amerika Serikat. John Rossa sejarawan penulis buku Dalih Pembunuhan Massal. Baskara T Wardaya dosen sejarah dan filsafat Universitas Sanata Dharma dan Gajah Mada.

Film diawali dengan potongan wawancara terhadap Budi. Seorang anak yang lahir pada awal 90-an. Budi menderita trauma. Padahal usianya belum lagi genap 10 tahun. Trauma akibat stigmatisasi dan kekerasan yang hingga sekarang masih dialami oleh keluarganya. Budi dan Kris kakaknya sering diejek dan dijadikan obyek hinaan di desa. Kris menggambarkan bahwa ia selalu dituduh dan dikambing hitamkan atas setiap kejadian pencurian di desa tersebut. Budi si adik sering melihat orang mengeroyok dan memukuli kakaknya. Kekerasan inilah yang menimbulkan trauma hebat dalam diri Budi. Ia menjadi pendendam. Budi kerap memiliki angan-angan untuk membunuh setiap orang yang menyakiti keluarganya. Atas alasan inilah maka orangtuanya menitipkan Budi di sebuah panti asuhan jauh dari desa mereka.

Ayah Budi bernama Mudakir. Seorang mantan tahanan politik yang puluhan tahun tinggal di Buru tanpa pernah ada pengadilan. Ibu Budi bernama Sumini. Ia juga anak korban tragedi 65. Semenjak peristiwa 65 Sumini kehilangan ayahnya yang diambil oleh tentara dan tidak pernah jelas dimana keberadaanya.

Pak Mudakir mengaku bahwa ia tidak pernah terlibat dalam organisasi apapun. Ia percaya bahwa tuduhan yang dialamatkan kepadanya sebagai anggota PKI lebih karena kecemburuan anak kepala desa yang tidak berhasil mendekati gadis yang menjadi pacarnya. Sekeluar pak Mudakir dari Buru ia kembali ke desa dan menikah dengan Sumini, seorang anak gadis yang bapaknya belum pernah kembali setelah ditangkap oleh tentara.

Sumini sendiri mengisahkan bahwa pernikahan baginya adalah sebuah hal yang berat. Pak Mudakir kerap memukulinya. Ia pun merasa masyarakat atau tetangga menjauhinya. “Saya tinggal di Kalasan dan suami saya bekas tahanan politik, sepertinya mereka tidak bisa menerima keluarga saya. Mereka mungkin marah ya, rumah saya mau dibakar. Tapi ga jadi dibakar tapi cuma dirobohkan. “. Namun Ibu Mini berkeputusan untuk tidak pernah menaruh dendam pada siapapun. Ia bertekad untuk fokus mendukung Budi agar tidak mengalami trauma yang lebih dalam. Kris kakak Budi saat ini menikmati statusnya yang baru. Ia tidak lagi tinggal di desa dan memilih hidup bebas merdeka sebagai anak jalanan.

Kisah kedua adalah mengenai Lanny dan keluarganya di Semarang. Pada tahun 1965, Alex ayah Lanny memegang posisi penting di BAPERKI.  Saat tensi politik semakin tinggi, ayahnya ditangkap dan kemudian dieksekusi.  Sejak saat itu semua berubah. Lanny yang dulu memiliki banyak teman akhirnya dijauhi. Ia kerap dituding dan diejek sebagai anak PKI. Cita-citanya menjadi dokter pun terpaksa kandas karena sang Ibu tidak mampu membiayai uang masuknya. Semua kejadian tersebut membuat Lanny menjadi sosok perempuan keras dan tangguh namun pemarah. Menurut pengakuannya saat ini ia sudah lebih tenang menjalani hidup karena ia memilih untuk lebih mendekatkan diri kepada Budha.

Ia percaya dengan karma. Ia meyakini bahwa orang-orang yang membunuh ayahnya hidup sengsara dan mati dengan cara yang lebih tragis.

Kisah ketiga mengenai Pak Degung. Ia juga masih kecil saat peristiwa 1965 terjadi. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana bapaknya diangkut oleh tentara dan tak pernah kembali. Ia pun melihat langsung banyak orang dibunuh. Ia mengatakan, pada saat itu banyak orang terpaksa membunuh tetangganya sendiri agar tetap hidup. Ada satu masa dimana Degung tidak pernah tahu alasan ibunya meninggalkan dirinya dan keluarganya. Namun saat ini Degung paham. Sebagai anggota Gerwani, ibunya pun ikut ditangkap. Dan untuk bertahan hidup, ibunya mau menerima lamaran dari sipir penjara. Degung tahu bahwa ibunya tidak akan pernah diterima kembali lagi ke keluarga mereka meskipun keluar dari penjara dan tidak menikah.

Degung saat ini menjadi salah seorang intelektual publik di Bali.

Salah satu kisah yang paling mengenaskan adalah kisah mengenai pak Kereta. Dalam wawancara pertama saya perhatikan Pak Kereta memakai jaket tentara. Saya pikir Lemelson sedang mewawancarai pelaku yang juga mengalami trauma. Namun akhirnya saya mendapatkan penjelasan diakhir cerita.

Dalam satu sesi diskusi, Lemelson menyatakan bahwa sesi yang paling sulit dan lama adalah saat bersama Pak Kereta. Namun akhirnya Lemelson berhasil mengulik sedikit cerita dari Pak Kereta. Pak Kereta bercerita bahwa keikutsertaannya dalam organisasi LEKRA adalah karena ajakan kepala desa. Sebagai penabuh gamelan. Ia pun kerap pentas dalam acara-acara organisasi.

Saat peristiwa 65 meletus ia menyaksikan banyak pembantaian terjadi di sekitarnya.  Ia sendiri dihukum kerja paksa. Semua pekerjaan berat ia harus lakukan tanpa mendapatkan imbalan. Menurut Lemelson -walaupun ia sendiri tidak menyukai istilah tersebut-  Kereta mengalami penyakit delusional atau halusinasi. Saat ini Kereta hidup sangat miskin. Kereta merasa bahwa arwah beberapa teman dan tetangganya masih sering mengikutinya. Berbentuk bayangan hitam dan tidak mampu ia singkirkan. Ia merasa bahwa bayangkan hitam itu hendak memangsanya. Namun Kereta memiliki cara untuk menangkalnya. Dengan wajah lugu ia menerangkan bahwa bayangan hitam itu bisa hilang jika ia memakai penangkal. Dan saat ditanya apa penangkalnya, dengan yakin ia menjawab bahwa bayangan hitam itu menghilang jika ia pakai baju loreng, baju tentara. Kereta meyakini bahwa bayangan hitam takut dengan tentara. Nah, untuk melindungi kepalanya agar tidak dirasuki oleh setan arwah-arwah, Kereta menggunakan helm tentara.

Dahsyat. Film ini mampu membuat saya kembali mencucurkan air mata. Dengan alasan yang benar. Setelah Mass Grave, Shadow Play dan Saya rasa itu sulit untuk dihilangkan, sulit untuk dihilangkan maka  film ini menambah lagi deretan film dokumenter mengenai  tragedi 1965.

Potongan-potongan dokumenter lama serta trio sejarawan, Romo Baskara T Wardaya, John Roosa dan Geoffrey Robinson,  menerangkan temuan-temuan dalam penelitian mereka mengenai tragedi tersebut. Dengan bukti kuat mereka menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi pada tahun 1965 dan bagaimana Soeharto mendapatkan keuntungan dari peristiwa 65.

Meskipun secara keseluruhan film ini dibuat dengan apik, saya sedikit terganggu dengan beberapa elemen yang menurut saya tidak pas. Lemelson kerap membuat beberapa kegiatan masa kini dengan warna BW atau hitam putih. Padahal ia juga mengambil beberapa potongan film dari arsip nasional yang hitam putih. Jadi ada beberapa gambar yang agak sulit membedakan apakah kejadian tersebut adalah kejadian masa lalu buah dari unduhan koleksi arsip film lamanya atau kejadian baru tapi dibuat hitam putih untuk memberi efek suram pada film.

Oh iya ada satu lagi yang menarik dalam film dokumenter ini. Lagu genjer-genjer dimainkan dengan berbagai macam irama. Membuat saya ingin segera akses internet dan mengunduhnya di youtube. Mudah-mudahan ada.

Saya ingat satu pesan dari Romo Baskara. Ia menyatakan bahwa bangsa ini tidak akan pernah keluar dari sejarah kekerasan dan bagaimana kekerasan ini akan terus berulang jika dan jika bangsa ini tidak pernah mau menghadapi kebenaran atas tragedi 65. Ini berarti kita semua memiliki tanggung jawab untuk mengabarkan kebenaran ini terus menerus agar sejarah kekerasan tidak terulang. Dan pemerintah tentu saja harus bertanggung jawab untuk meluruskan sejarah dan mengakui bahwa ada satu masa dimana bangsa ini telah begitu kejam melakukan pembiaran atas pembantaian jutaan nyawa manusia.

Nunca Mas!

***

Genjer-genjer nong kedo’an pating keleler
Genjer-genjer nong kedo’an pating keleler
Ema’e thole teko-teko mbubuti genjer
Ema’e thole teko-teko mbubuti genjer
Oleh satenong mungkur sedot sing toleh-toleh
Genjer-genjer saiki wis digowo mulih

Genjer-genjer esuk-esuk didol neng pasar
Genjer-genjer esuk-esuk didol neng pasar
Dijejer-jejer diuntingi podo didasar
Dijejer-jejer diuntingi podo didasar
Ema’e jebeng podo tuku gowo welasar
Genjer-genjer saiki wis arep diolah

Comments
  1. Thanks for the thoughtful review of 40 years of silence.
    Robert Lemelson

  2. Alfanso Ronald says:

    can’t hardly wait to see it…

Leave a Reply to Alfanso Ronald Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s